Manusia
sering kali dihadapkan oleh dua kemungkinan, salah satunya adalah benar dan
salah. Benar dan salah itu adalah dua sisi yang berbeda akan tetapi memiliki
banyak persamaan yang terkadang sering kali membuat kita semua tidak bisa
membedakan keduanya. Banyak saat ini kebenaran menjadi sebuah kesalahan dalam
hidup sedangkan kesalahan malah dinyatakan sebagai pembenaran. Manusia adalah
sosok yang tidak luput dari kesalahan, karena manusia adalah sosok yang tidak
sempurna. Lalu mengapa sering kali orang-orang menuntut agar kita bisa
bertindak tanpa kesalahan?. Jawabnya adalah karena manusia merupakan mahkluk
anti salah, merupakan sosok yang tidak mau dipersalahkan, sosok yang haus akan
kebenaran, sehingga terkadang melakukan berbagai cara untuk membuktikan bahwa
apa yang mereka yakini merupakan sesuatu yang paling benar.
Sikap
membuktikan kebenaran itu saya sebut sebagai pembelaan diri atas pendapat yang
mereka miliki. Mengutarakan pendapat adalah hak setiap manusia, akan tetapi
dalam mengutarakan pendapat pun kita seharusnya memiliki tatakrama yang baik,
kebebasan mengutarakan pendapat itu juga memiliki batasan-batasan tertentu,
dimana batasan-batasan itu menyangkut sikap sopan santun dalam menghargai orang
lain.
Jika
seorang manusia sudah bisa melakukan sikap saling menghargai maka, keharmonisan
dalam bermasyarakat pun akan terbentuk. Tapi inilah fakta dari kehidupan,
kehidupan adalah sekumpulan warna yang berbeda yang dipaksakan membaur menjadi
satu walau secara hakikatnya tidak akan mungkin bisa tersatukan. Dan sekumpulan
warna yang saling melengkapi inilah disebut dengan keseimbangan dunia.
Bahwa
manusia itu hidup untuk manusia lainnya!.
Salam
kemanusiaan!.