Semakin
sering menulis fiksi, maka semakin rapi alur cerita yang dibuat, semakin
hati-hati menciptakan kerasionalan konflik cerita yang ditulis. Mungkin seperti
itulah seharusnya kita memperlakukan hidup. Segalanya harus diperhatikan dan
dipertimbangkan. Sehingga semakin lama kita menjalani hidup maka semakin matang
kita menyikapi banyak masalah.
Sering
orang bilang keadaan dan situasi lingkungan bisa membuat seseorang berubah
menjadi sangat berbeda, padahal hal itu menurut saya adalah sebuah salah besar.
Contohnya saja anak kambing yang sejak kecil hidup dengan singa atau malah
sebaliknya, tak mungkin kambing akan menjadi singa atau malah singa menjadi
kambing, jika pun prilaku kambing akan berubah atau sebaliknya, suatu ketika
dia akan sadar dengan fakta yang harus dihadapinya bahwa seekor kambing hidup
di antara singa adalah bahaya yang akan merenggut hidupnya.
Contoh
lainnya adalah pohon apel yang tumbuh di tengah-tengah kebun jeruk, apal tetap
lah apel dan jeruk tetap lah jeruk tak mungkin apel akan memiliki rasa yang
sama dengan jeruk. Jadi jika seseorang mengatakan seorang anak memiliki prilaku
buruk karena lingkungannya maka hal itu adalah kesalahan besar, yang benar
adalah sifat yang dimilikinya adalah murni pengembangan sifat dari bawaan gen
yang dimilikinya. Lalu bagaimana jika kasus seorang anak nakal yang memiliki
kedua orang tua yang begitu baik. “baik” adalah kata yang tidak bisa dinilai
dari apa yang orang miliki disaat penilaian itu diberikan. “baik” adalah
penilaian yang seharusnya diberikan ketika kita sudah mengetahui semua sejarah
kehidupan orang itu dari sejak lahir hingga sekarang, karena siapa sih yang mau
sifat buruknya diketahui oleh orang lain?.
Benarkah
pemikiran ini?. Semua boleh diragukan, karena penilaian itu adalah bagian dari
hak kemanusiaan untuk memilih.
Manusia
adalah makhluk cerdas yang diciptakan oleh Tuhan untuk berpikir, sehingga
manusia adalah sosok paling ahli menciptakan tipu muslihat. Contohnya saja
seekor burung sejak dia lahir dia sudah diberkati oleh Tuhan dengan bakat
terbang, dia hanya memerlukan waktu yang tidak lama untuk bisa terbang. Begitu
juga halnya dengan sapi yang hanya memerlukan beberapa menit untuk berjalan
setelah dia dilahirkan. Sedangkan manusia butuh belajar, coba saja seorang bayi
tidak diajarkan untuk berjalan maka dia tidak akan bisa berjalan, manusia
adalah makhluk yang diciptakan untuk belajar dan berpikir.
Mengapa
saya menilai manusia adalah sosok yang paling ahli menciptakan tipu muslihat?.
Jawaban itu beralasan karena manusia memiliki akal untuk menciptakan penipuan.
Manusia ingin terbang, secara bakat manusia tidak akan mungkin bisa terbang,
tapi manusia memiliki akal untuk memikirkan bagaimana cara mereka agar bisa
terbang, jadi mereka pun menciptakan pesawat sebagai tipu muslihat untuk bisa
terbang layaknya seekor burung. Segala upaya manusia untuk melakukan sesuatu
yang secara bakat tidak mungkin mereka lakukan, saya sebut sebagai tipu
muslihat atau kecerdasan tak berbatas (kreatifitas).[LSJR]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar