Jum’at, 23 Maret 2012


Semakin sering menulis fiksi, maka semakin rapi alur cerita yang dibuat, semakin hati-hati menciptakan kerasionalan konflik cerita yang ditulis. Mungkin seperti itulah seharusnya kita memperlakukan hidup. Segalanya harus diperhatikan dan dipertimbangkan. Sehingga semakin lama kita menjalani hidup maka semakin matang kita menyikapi banyak masalah.
Sering orang bilang keadaan dan situasi lingkungan bisa membuat seseorang berubah menjadi sangat berbeda, padahal hal itu menurut saya adalah sebuah salah besar. Contohnya saja anak kambing yang sejak kecil hidup dengan singa atau malah sebaliknya, tak mungkin kambing akan menjadi singa atau malah singa menjadi kambing, jika pun prilaku kambing akan berubah atau sebaliknya, suatu ketika dia akan sadar dengan fakta yang harus dihadapinya bahwa seekor kambing hidup di antara singa adalah bahaya yang akan merenggut hidupnya.
Contoh lainnya adalah pohon apel yang tumbuh di tengah-tengah kebun jeruk, apal tetap lah apel dan jeruk tetap lah jeruk tak mungkin apel akan memiliki rasa yang sama dengan jeruk. Jadi jika seseorang mengatakan seorang anak memiliki prilaku buruk karena lingkungannya maka hal itu adalah kesalahan besar, yang benar adalah sifat yang dimilikinya adalah murni pengembangan sifat dari bawaan gen yang dimilikinya. Lalu bagaimana jika kasus seorang anak nakal yang memiliki kedua orang tua yang begitu baik. “baik” adalah kata yang tidak bisa dinilai dari apa yang orang miliki disaat penilaian itu diberikan. “baik” adalah penilaian yang seharusnya diberikan ketika kita sudah mengetahui semua sejarah kehidupan orang itu dari sejak lahir hingga sekarang, karena siapa sih yang mau sifat buruknya diketahui oleh orang lain?.
Benarkah pemikiran ini?. Semua boleh diragukan, karena penilaian itu adalah bagian dari hak kemanusiaan untuk memilih.
Manusia adalah makhluk cerdas yang diciptakan oleh Tuhan untuk berpikir, sehingga manusia adalah sosok paling ahli menciptakan tipu muslihat. Contohnya saja seekor burung sejak dia lahir dia sudah diberkati oleh Tuhan dengan bakat terbang, dia hanya memerlukan waktu yang tidak lama untuk bisa terbang. Begitu juga halnya dengan sapi yang hanya memerlukan beberapa menit untuk berjalan setelah dia dilahirkan. Sedangkan manusia butuh belajar, coba saja seorang bayi tidak diajarkan untuk berjalan maka dia tidak akan bisa berjalan, manusia adalah makhluk yang diciptakan untuk belajar dan berpikir.
Mengapa saya menilai manusia adalah sosok yang paling ahli menciptakan tipu muslihat?. Jawaban itu beralasan karena manusia memiliki akal untuk menciptakan penipuan. Manusia ingin terbang, secara bakat manusia tidak akan mungkin bisa terbang, tapi manusia memiliki akal untuk memikirkan bagaimana cara mereka agar bisa terbang, jadi mereka pun menciptakan pesawat sebagai tipu muslihat untuk bisa terbang layaknya seekor burung. Segala upaya manusia untuk melakukan sesuatu yang secara bakat tidak mungkin mereka lakukan, saya sebut sebagai tipu muslihat atau kecerdasan tak berbatas (kreatifitas).[LSJR]

fb comment box

Tidak ada komentar:

Posting Komentar